Siang hari 12 Mei 2018, gue
mengalami kebingungan. Kakak kelas gue yang udah 3 tahun gak ketemu ada konser
orkestra, di UI. Dan itu jauh banget dari sekolah gue, Kharisma Bangsa.
UI di Depok, KB di Tangerang Selatan. Naik angkutan umum 2 jam, gojek 1
jam. Konser mulai jam 18.30 dan akan berlangsung selama 1,5 jam. Bingunglah
gue. Mau datang tapi takut pulang.
Jadilah gue mencoba menghubungi
temen-temen dan kakak kelas yang tinggal di deket UI. Sayangnya respons mereka
lama (salah gue juga sih requestnya mendadak). Yaudah gue Sholat Ashar. Habis
itu, gue teringat akan penyesalan yang lalu karena menyia-nyiakan kesempatan
yang ada. Tanpa pikir panjang, gue langsung tancap gas mandi dan pesen gojek ke
UI. Gue sampe gak liat harga. Mau tahu berapa? 50ribu. Gila.
Sambil berharap-harap cemas
mendapatkan tiket on the spot (masa pre order sudah habis kemarinnya, gue gak
pesen Po karena takutnya ada acara lain eh ternyata gaada), gue mencoba
menikmati perjalanan. Driver gue cekatan membawa gue menyusuri jalan pemukiman.
Sore-sore, ternyata kota ini gak terlalu panas (pas siang panasnya ya ampun),
suasananya kalem dan ngademin seperti pemukiman pada umumnya hanya dengan
sungai kecil di sisi kiri jalan.(sore itu ya, waktu lain gak jamin) kami mampir
di ATM sebentar dan akhirnya sampai juga di UI.
Sampai di Balai Sidang UI (tempat
orkestra digelar) gue langsung buru-buru naik dan beli tiket. Masih ada. Fiuh.
Dengan harapan bahwa gue dapat tempat duduk di depan gue membeli tiket gold
yang tentunya lebih mahal (Gaya banget njir HAHAH. Info:gold 135k. Iya mahal
buat orkestra 1.5 jam). Hati tenang, sudah dapat kepastian nonton meskipun gue
belum dapat kepastian tempat bernaung. Gapapa (dasar gila). Lalu gue foto-foto
di depan gedung rektorat.
Gate dibuka jam 6 sore, gue
sholat maghrib di gedung Fakesma. Habis itu langsung masuk dan gue ketemu kak
wentaa (kyaa!) sudah 3 tahun gak ketemu, sekarang dia di geofisika UI (uwoow).
Lalu memilih tempat duduk. Sistem seatingnya adalah suatu hal yang menurut gue
aneh. Jadi ruangan konser dibagi 3, sayap kiri kanan dan tengah. Nah tiket gold
itu bisa duduk di tengah depan, dan sayap belakang (kenapa coba? kan bayarnya
lebih mahal, dapetnya di belakang. Sampe ada seorang bapak, sebut saja Sujiko,
yang marah-marah gara-gara ini). Konser dimulai.
Musikampus OSUI Mahawaditra 'La
Grande Roue : Tunes All Around'
Sesuai tema karnaval yang
ditampilkan, konsernya menceritakan pengalaman seorang jomblo yang sedang
mengunjungi karnaval. Disini penonton dibawa melewati berbagai emosi yang ada
di setiap lagu. Lagu yang ditampilkan adalah Divertimento by
W.A. Mozart, Waltz of The Flowers-nya Tchaikovsky, Septagon karya
Rama Anggara sebagai pemenang lomba OSUI call for scores, Pavane by
Gabriel Faure, Varia Ibukota karya Mochtar Embut, dan Pomp
and Circumstance March by Edward Elgar. OSUI membawakan lagu-lagu
dengan sangat baik, namun terasa sangat kurang saat bagian melodi cepat di lagu
lagu happy. Sementara di lagu Pavane yang mellow banget
(di konser ini yg paling gue suka) tim orkes ini bisa memunculkan kesedihan
dengan sangat pas.
Melihat penonton dan eksekusi
acaranya jujur gue sedikit kecewa. Dimulai dari Sujiko yang marah gara
gara masalah seating tadi (jujur gw rada setuju sih, tapi ya gausah sampe
ngamuk lah) sampe orang yang foto pas konser berjalan dengan LAMPU FLASH ON
, seriously ?? (btw orang itu dimarahi oleh Sujiko yang duduk
di depannya). Pembawa acara masih slip dalam memandu, dan narasi dari si jomblo
yang perjalanannya kita ikuti selama konser masih kurang gripping menurut gue. Dari
masalah-masalah sepele ini feel of the concert jadi
kurang tapi orkesnya bisa membawa lagu dengan sangat baik. I think
this is not what I'll get for 135k, but I'm still satisfied.
Pling, sebuah notif masuk.
"Jril ke apartemen gue aja"- Ikhsan, penyelamat gue 2018. Lokasi
sudah dishare, Margonda Residence, gojek sudah dipesan. Tak lama dibawalah dengan kencangnya gue
oleh motor gojek menuju apartemen ikhsan, sembari menunggu petualangan selanjutnya.
Terimakasih sudah membaca!



0 comments:
Post a Comment