Friday, June 1, 2018

Thousands of Beauties - Kepulauan Seribu 1

May 14th, 2018. I woke up at 4 am, quickly brushed my teeth then briefly packed up. I was so excited that day because i and my grademates were going to take a two days one night trip. We're planing to go somewhere tropical, not too far from Jakarta, yet have comparable exotic beach experiences with Bali and Lombok. Guessed it? you're absolutlely right. We're heading towards the islands of thousands-Kepulauan Seribu.

Kepulauan Seribu is administratively part of Jakarta. On the port you might see jakarta government yachts with 'kepulauan seribu' written on the sides. It has good reputations among tourists but most of them are still domestics.

You could go to the islands by ferry or speedboat from port Marina Ancol. Speedboats are good, but you should try the ferry as it's cheaper and offers the traditional feeling. The best time to go there is in summer (April-October) as the waves are much calmer at summer times.

We set off by bus at 5.00 from Kharisma Bangsa to the port. On the way, traffic is heavily crowded so our bus went on really slow. Congestions always made me pretty freaked out, but fortunately it ended not so long enough. We still managed to arrive at the port on time (slightly later). We already rent a speedboat, so schedule was more flexible (the ferry is scheduled and it only goes back and forth once a day). The speedboat then took us cruising steadily through the sea.


After a one hour ride, we finally arrived upon 'Pulau Harapan' (mean:island of hopes) where our homestay is located. Pulau harapan is one of the islands used as a civil settlement so it is moderately crowded. It's not big, yet beautiful and whole-length, even there are schools from primary to senior high! Strolling down the port, a colorful of small boats can be seen. Through the small streets I saw some local shops selling foods and supplies, kids playing football, and some motorbikes gently passing. There are also a lot of homestays, although only a little offered ocean view.



Actually, many options are available for staying the night in kepulauan seribu. If you want to save cash while also trully experience nature, you can set a camp on one of the more quiet islands which has only one inhabitant (the custodian) for a good Rp25k per person per night. Else, you can go to one of the homestays offered in many islands ranging from budget ones to the one that costs Rp3 million per night. Mad enough, but you get the WHOLE island, said our guide.

Our homestay 'Baronang Homestay' (baronang is a name of fish) is decent, and it is located at the beach so we could view the sea from there. The view is quite good, but sadly it wasn't heading west so we have to walk to the port first to witness sunset. The homestay also had a nice spot for portraits (bottom right)!

We had to do the tour as effective as possible, so we grabbed our equipments and headed back to the port directly after lunch. Our next thing to do was snorkeling at Pulau Genteng. The only way to move between islands was by boat so our travel agent has rented two boats for us. I hopped into one of them. The sound of the engine went along our journey.
This was my first experience of snorkeling, so it took time for me to master the equipments (water sometimes came down the snorkeling tube to my mouth). Below, i saw magnificent coral reefs accompanied by a lot of fishes swimming along. I also saw exotic creatures like crabs, and a rockfish (be careful!). Sadly I don't have an action cam, so all those moments underwater can't be captured.

Continued in part 2

Thursday, May 24, 2018

Car Free Day dan Parade Asian Games


13 Mei 2018, gue terbangun sekitar pukul 5.30 pagi di apartemen ikhsan (sebuah apartemen 18 lantai berjudul "Margonda Residence" yang terletak di Kota Depok). Sholat subuh sebentar lalu bersama Made dan Ikhsan (sayang sekali Rizqi gabisa ikut karena hari itu simak UI), kami bersiap menuju ke Car Free Day pertama gue (dan made) karena kebetulan juga hari itu kabarnya ada parade asian games. Langsung jalan ke stasiun UI.


Dari stasiun UI kami turun di stasiun sudirman. Keluar stasiun ternyata di depannya langsung cfd-nya. Lalu kami jalan menuju keramaian. Di sepanjang jalan kami menemui banyak orang yang lagi aktif banget sama kegiatan mereka. Ada yang jualan, mulai dari baju sampai sarapan. Banyak juga yang olahraga, seinget gue ada 3 senam berbeda yang berlangsung di sepanjang jalan. Ada kampanye sosial (bukan politik ya) seperti bullying dll. Ada juga yang ngamen cosplay. Suasana car free day ini baru banget buat gue, untuk pertama kali selama 3 tahun di jabodetabek gue ngerasain jakarta yang cukup dingin dan segar.
Dari situ kami bertiga terus jalan dan sampailah di depan sarinah, salah satu jalan yang dilalui paradenya. Orang-orang udah pada ngumpul di tepi, pingin lihat. Kami bertiga ikutan. Nggak lama, paradenya lewat. Di sini, semua sponsor di asian games memamerkan keunikan rombongannya masing-masing. Sponsor yang ikutan juga banyak banget. Ada grab, pertamina, PLN dan banyak lagi. Semuanya keren-keren. Mulai dari orang pake egrang tinggi-tinggi sampe kostum-kostum yang didesain dengan estetik banget semuanya ada. Parade diakhiri dengan rombongan dari Jember Fashion Caravan yang mengenakan kostum bagus-bagus bertemakan kerajaan nusantara.


Setelah parade kami bertiga sarapan ketoprak, lalu jalan terus ke monas. Ini juga pertama kalinya gue 'ke monasnya'. Biasanya cuma ngeliatin dari stasiun gambir aja. Ternyata di dalam areanya ada taman yang indah sama ada trail batu-batu buat pijat refleksi nyeker. Kami istirahat di depan monasnya, sambil nungguin rizqi yang masih simak. Rencananya kami mau balik ke asrama bareng-bareng biar hemat.


Dari tempat kami istirahat terlihat gedung perpustakaan nasional, monomen nasionalnya sendiri, dan gedung-gedung tinggi yang terlihat samar-samar di kejauhan. Kelihatan juga orang-orang yang ngantri sesuatu di gedung monasnya. Kata ikhsan sih ngantri buat naik ke atas. Gue juga pengen, tapi rizqi harusnya udah selesai simak dan kami harus segera balik ke apartemen. Kami berjalan (cukup jauh) menuju stasiun gondangdia, dan naik kereta kembali ke stasiun ui. Announcer berbicara, pintu ditutup, kereta lalu bergerak mengakhiri petualangan kali ini, membawa gue ke petualangan selanjutnya.

Terimakasih sudah membaca!

Saturday, May 19, 2018

Konser Orkes Simponi UI


Siang hari 12 Mei 2018, gue mengalami kebingungan. Kakak kelas gue yang udah 3 tahun gak ketemu ada konser orkestra,  di UI. Dan itu jauh banget dari sekolah gue, Kharisma Bangsa. UI di Depok, KB di Tangerang Selatan. Naik angkutan umum  2 jam, gojek 1 jam. Konser mulai jam 18.30 dan akan berlangsung selama 1,5 jam. Bingunglah gue. Mau datang tapi takut pulang.

Jadilah gue mencoba menghubungi temen-temen dan kakak kelas yang tinggal di deket UI. Sayangnya respons mereka lama (salah gue juga sih requestnya mendadak). Yaudah gue Sholat Ashar. Habis itu, gue teringat akan penyesalan yang lalu karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Tanpa pikir panjang, gue langsung tancap gas mandi dan pesen gojek ke UI. Gue sampe gak liat harga. Mau tahu berapa? 50ribu. Gila.

Sambil berharap-harap cemas mendapatkan tiket on the spot (masa pre order sudah habis kemarinnya, gue gak pesen Po karena takutnya ada acara lain eh ternyata gaada), gue mencoba menikmati perjalanan. Driver gue cekatan membawa gue menyusuri jalan pemukiman. Sore-sore, ternyata kota ini gak terlalu panas (pas siang panasnya ya ampun), suasananya kalem dan ngademin seperti pemukiman pada umumnya hanya dengan sungai kecil di sisi kiri jalan.(sore itu ya, waktu lain gak jamin) kami mampir di ATM sebentar dan akhirnya sampai juga di UI. 

Sampai di Balai Sidang UI (tempat orkestra digelar) gue langsung buru-buru naik dan beli tiket. Masih ada. Fiuh. Dengan harapan bahwa gue dapat tempat duduk di depan gue membeli tiket gold yang tentunya lebih mahal (Gaya banget njir HAHAH. Info:gold 135k. Iya mahal buat orkestra 1.5 jam). Hati tenang, sudah dapat kepastian nonton meskipun gue belum dapat kepastian tempat bernaung. Gapapa (dasar gila). Lalu gue foto-foto di depan gedung rektorat.

Gate dibuka jam 6 sore, gue sholat maghrib di gedung Fakesma. Habis itu langsung masuk dan gue ketemu kak wentaa (kyaa!) sudah 3 tahun gak ketemu, sekarang dia di geofisika UI (uwoow). Lalu memilih tempat duduk. Sistem seatingnya adalah suatu hal yang menurut gue aneh. Jadi ruangan konser dibagi 3, sayap kiri kanan dan tengah. Nah tiket gold itu bisa duduk di tengah depan, dan sayap belakang (kenapa coba? kan bayarnya lebih mahal, dapetnya di belakang. Sampe ada seorang bapak, sebut saja Sujiko, yang marah-marah gara-gara ini). Konser dimulai.




Musikampus OSUI Mahawaditra 'La Grande Roue : Tunes All Around'

Sesuai tema karnaval yang ditampilkan, konsernya menceritakan pengalaman seorang jomblo yang sedang mengunjungi karnaval. Disini penonton dibawa melewati berbagai emosi yang ada di setiap lagu. Lagu yang ditampilkan adalah Divertimento by W.A. Mozart, Waltz of The Flowers-nya Tchaikovsky, Septagon karya Rama Anggara sebagai pemenang lomba OSUI call for scores, Pavane by Gabriel Faure, Varia Ibukota karya Mochtar Embut, dan Pomp and Circumstance March by Edward Elgar. OSUI membawakan lagu-lagu dengan sangat baik, namun terasa sangat kurang saat bagian melodi cepat di lagu lagu happy. Sementara di lagu Pavane yang mellow banget (di konser ini yg paling gue suka) tim orkes ini bisa memunculkan kesedihan dengan sangat pas.

Melihat penonton dan eksekusi acaranya jujur gue sedikit kecewa. Dimulai dari Sujiko yang marah gara gara masalah seating tadi (jujur gw rada setuju sih, tapi ya gausah sampe ngamuk lah) sampe orang yang foto pas konser berjalan dengan LAMPU FLASH ON , seriously ?? (btw orang itu dimarahi oleh Sujiko yang duduk di depannya). Pembawa acara masih slip dalam memandu, dan narasi dari si jomblo yang perjalanannya kita ikuti selama konser masih kurang gripping menurut gue. Dari masalah-masalah sepele ini  feel of the concert jadi kurang tapi orkesnya bisa membawa lagu dengan sangat baik. I think this is not what I'll get for 135k, but I'm still satisfied.


Pling, sebuah notif masuk. "Jril ke apartemen gue aja"- Ikhsan, penyelamat gue 2018. Lokasi sudah dishare, Margonda Residence, gojek sudah dipesan. Tak lama dibawalah dengan kencangnya gue oleh motor gojek menuju apartemen ikhsan, sembari menunggu petualangan selanjutnya.

Terimakasih sudah membaca!


Sunday, May 13, 2018

Sejarah Singkat


Hai semua, nama lengkap gue Muhammad Fajril Afkaar Ali Muchtar, temen-temen gue biasa manggil gua Fajril. Pas gue nulis pos ini umur gue 16 tahun dan baru aja lulus SMA. Hobi gaada, tapi gue pengen coba semua. Basket, gitar, menggambar, sastra, sanis, nulis, nonton, travelling, fotografi dan lainnya pokoknya banyak deh.

Gue lahir di bawah tangga rumah saudara nenek gue di hari terakhir di bulan Juli tahun 2001. Setelah itu gue kecil dibawa ke jogja sama orang tua gue, ikut Ayah yang lagi S2 di UGM. Selepas menjadi masternya Ayah, beliau dapet dinas di Lampung sebagai dosen fisika di Universitas Lampung (Unila). Alhasil kami sekeluarga pun pindah ke Lampung dan menetap disana sampe saat gue nulis pos ini.

Sekolah formal pertama gue adalah SD Al-Azhar, suatu SD di kota Bandar Lampung, terus pindah ke SD Al-Kautsar (masih di Bandar Lampung juga) pas kelas 2. Sebenernya dari awal mau masuk AKA, tapi waktu itu gue ditolak karena belum cukup umur. Untungnya Al-Azhar berbaik hati memberikan kesempatan buat gue diuji dulu dan gurunya bilang udah siap sekolah jadi yaudah, tahun pertama gue habiskan di Al Azhar. (btw sekarang lupa lupa inget masa kelas 1 gue gimana, maklumlah masih SD). Karena nilai kelas 1 gue memuaskan, (rank 1 coyy hahaa) gue pun diterima di SD Al Kautsar sebagai murid pindahan.

Lulus dari AKA, gue melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Bandar Lampung. Ini adalah salah satu tempat bersejarah buat gue, dan masa SMP ini juga masa-masa yang merubah hidup gue secara pesat. Di sini gue bertemu banyak orang-orang hebat, terutama Pak Asep dan Pak Har.

Gue (telah menamatkan) SMA di Sekolah Kharisma Bangsa (Biasa disingkat KB), sebuah sekolah yang terletak di Jalan Terbang Layang no. 21 Pondok Cabe tangerang selatan. KB ini sekolahnya internasional, kurikulumnya Cambridge. Dulu enggak sih, waktu gue tingkat akhir ada 3 kurikulum berbeda yang berjalan. kelas 10 cambridge, kelas 11 Kurikulum 2013, dan angkatan gue kelas 12 masih pake KTSP. Sekolah di KB serunya bukan main.

Makanan favorit gue adalah kari buatan bunda, ketoprak dan tentunya mie instan.

Sekian aja ceritanya, cerita lain bakal gue pos di postingan berikutnya. Semoga blog ini aktif, aamiin.
Terimakasih telah membaca!